Menyelami Arti Mensyukuri Nikmat Illahi

Fazway

Oleh : Muhammad Chabib Fazal Jinan

Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia di antara makhluk-makhluk lainnya. Kemuliaan itu karena manusia oleh Allah dibekali dengan berbagai sarana untuk saling melengkapi dengan makhluk-makhluk lain. Sarana paling berharga yang dimiliki oleh manusia adalah akal dan pikirannya. Dengan akal dan pikiran inilah manusia dapat mempelajari berbagai ilmu dan juga membekalinya dengan ajaran agama sehingga manusia dapat menjadi khalifah di muka bumi dan melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Karena itulah manusia wajib bersyukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan akal kepadanya.Syukur berarti berterima kasih dan memuji yang telah memberi atau memuji. Orang yang bersyukur kepada Allah Swt. berarti orang yang berterima kasih kepada Allah Swt. dengan memuji-Nya atas kenikmatan yang telah diterimanya dari-Nya.

Syukur merupakan akibat dari adanya nikmat yang telah diterima dari pemberi nikmat, sedang pujian merupakan sifat mulia yang melekat pada diri yang diterima. Sebagai contoh, “Saya memuji Nabi Muhammad saw. karena keluhuran budinya dan saya harus memuji Ali bin Abi Thalib karena keberaniannya.”Syukur dilakukan dengan tiga hal, yaitu hati, lisan, dan anggota badan sebagaimana iman. Orang yang bersyukur kepada Allah Swt. atas kenikmatan yang diterima, maka ia harus mengakui kenikmatan itu dalam hati, kemudian lisannya mengucapkan kalimat Alhamdulillah dan anggota tubuh tergerak untuk lebih taat kepada Allah Swt. Dan memberikan sebagian kenikmatan itu kepada orang lain yang membutuhkan. Dalam al-Quran Allah SWT. memerintahkan kepada orang Islam agar selalu bersyukur kepada-Nya. Dalam QS. Al-Baqarah: 152. Allah Swt memerintahkan kita agar selalu mengingat-Nya dan berterima kasih kepada-Nya:

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula), dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”  (QS. Al-Baqarah:152).

Dalam ayat yang lain Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang percaya, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan dan bersyukurlah kepada Allah, jika-benar hanya kepada-Nya kamu memuji.” (QS. Al-Baqarah: 172).

Allah juga menegaskan bahwa orang yang bersyukur kepada-Nya sebenarnya tidak akan berpengaruh sama sekali kepada Allah, karena Allah Maha Kaya yang tidak butuh kepada siapa pun, tetapi hasil syukur 7 kembali kepada dirinya sendiri, begitu juga sebaliknya, orang yang kafir (tidak mau bersyukur dirinya sendiri, begitu juga sebaliknya, orang yang kafir (tidak mau bersyukur) ), akibatnya akan kembali kepadanya. Dalam QS. al-Naml: 40 Allah Swt berfirman:
Artinya: “Dan barangsiapa Yang Bersyukur Maka Sesungguhnya dia Bersyukur untuk review  (Kebaikan) Dirinya Sendiri Dan barangsiapa Yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha  Kaya Lagi Maha Mulia”. (QS Al-Naml:. 40) .

Syukur posisi yang tinggi di antara sifat-sifat terpuji lainnya. Bahkan al-Ghazali menempatkan syukur pada kedudukan yang lebih tinggi di atas sabar, zuhud, dan sifat-sifat lainnya. Agar syukur benar-benar berfungsi dan memiliki kedudukan seperti ini, maka syukur harus memenuhi tiga unsur pokok, yaitu:

  • Orang yang bersyukur harus mengetahui dan memahami nikmat dan Dzat Pemberi nikmat. Seluruh nikmat berasal dari Allah Swt. Jika seseorang mengakui ada pihak lain selain Allah yang memberi nikmat kepadanya, maka pujiannya kepada Allah tidak sah dan syukurnya mengagumkan.
  • Orang yang mensyukuri nikmat Allah harus disertai dengan ketundukkan dan pengagungan kepada-Nya. Orang yang mendapatkan nikmat sehat akan menggunakan kesehatannya untuk melakukan ibadah kepada Allah dan melakukan pekerjaan sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing dengan aturan yang benar. Jika nikmat dijadikan perantara kepada-Nya, makanikmat itu akan menjadikan sempurnanya syukur kepada Allah.
  • Dengan nikmat yang diterima dari Allah, orang akan mencintai Allah, bukan durhaka kepada-Nya. Hal ini akan dapat dicapai jika orang itu mengenal hikmah dari semua yang diciptakan Allah. Misalnya, dia harus mengetahui bahwa mata yang dimiliki merupakan nikmat dari Allah. Mensyukuri mata adalah dengan menggunakan mata untuk membaca Al-Quran, belajar ilmu pengetahuan, dan yang semisalnya sehingga ia mampu menyerap pelajaran itu dan mengagungkan Allah sebagai penciptanya. Dia juga harus melindungi matanya dari semua bentuk maksiat yang mungkin timbul melalui matanya. Begitu juga dengan anggota tubuh lainnya, seperti telinga, tangan, kaki, dan lain sebagainya.

 

bersyukur kepada Allah adalah sifat yang sangat terpuji dan orang yang bersyukur akan memperoleh hikmah yang banyak, di antaranya adalah:

 

  • Allah akan melipatgandakan nikmat-Nya kepada orang yang mau bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya, Allah akan memberikan azab-Nya yang sangat pedih kepada orang yang tidak mau berterima kasih kepada-Nya. Allah SWT. Berfirman:
    Artinya: “Dan (ingatlah also), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya JIKA  kamu Bersyukur, Pasti Kami akan Menambah (nikmat) Kepadamu, Dan JIKA kamu  . Mengingkari (nikmat_Ku), Maka Sesungguhnya azab_Ku Sangat Pedih’”  (QS. Ibrahim:7).
  • Allah berjanji akan memberikan balasan kepada orang yang bersyukur. Allah Swt.Berfirman yang Artinya  : “… dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS.Ali’Imran(3):144).

Orang yang selalu bersyukur akan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatannya. Orang yang selalu bersyukur dalam keadaan apa pun, baik mendapat nikmat atau musibah, dialah yang nantinya akan mendapatkan kenikmatan yang hakiki di surga.
Inilah syukur merupakan sifat mulia yang harus kita biasakan sehingga menjadi karakter kita semua. Hanya dengan syukurlah manusia akan dihargai oleh Allah dan juga oleh orang lain, sebaliknya tanpa syukur manusia tidak akan mendapatkan penghargaan dari orang lain, apalagi dari Allah Swt. Karena itu, marilah kita selalu bersyukur kepada Allah atas semua kenikmatan yang telah diberikan kepada kita semua. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang bersyukur kepada-Nya.

Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat

Penulis : Muhammad Chabib Fazal Jinan
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam
Institut Pesantren Kyai Haji Abdul Chalim Mojokerto

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *